IMG-20180908-WA0039 Catatan Perjalanan Rahmi Muliana Selama Mengikuti KKN Internasional
6th November 2018

Beberapa waktu lalu Universitas Syiah Kuala mengirimkan 15 mahasiswanya untuk mengikuti kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN) internasional ke Malaysia. Dari 15 mahasiswa yang dikirimkan salah satunya berasal dari Prodi Matematika yaitu Rahmi Muliana. Atas dasar hal tersebut, Rahmi berinsiatif untuk berbagi pengalamannya selama mengikuti kegiatan tersebut. berikut pengalaman Rahmi selama disana.

“Perkenalkan nama saya Rahmi Muliana, mahasiswa Matematika FMIPA Unsyiah angkatan 2015. Saya ingin share sedikit experience selama saya berada di Malaysia bulan agustus-september lalu. Namun sebelumnya izinkan saya ucapkan puji dan syukur kehadirat Allah SWT serta shalawat kepada Rasulullah SAW terlebih dahulu. Kerena tanpa mereka, mungkin tulisan ini tidak akan jadi. Jari jemari saya tidak akan bergerak tanpa gerak daripada Allah. Alhamdulillah. Allahumma shalli ‘ala Muhammad. Jadi, bulan Agustus hingga September 2018 lalu itu menjadi bulan bersejarah dalam hidup saya. Karena melalui program KKN Internasional Usyiah tahun 2018, saya resmi menjadi perwakilan mahasiswa Program Studi Matematika Fakultas MIPA Universitas Syiah Kuala untuk berpartisipasi dalam kegiatan tersebut. Suatu hal yang tidak pernah saya fikirkan sebelumnya.

IMG-20180827-WA0008

Nah, alasan pertama kenapa saya apply program KKN Internasional ini adalah karena untuk mengikuti KKN Regular tahun 2018 di Gayo Luwes lalu saya tidak mendapatkan izin dari orang tua saya. Sedih rasanya ketika syarat untuk mengikuti KKN Regular sudah saya penuhi namun tetap tidak bisa ikut karena factor izin orang tua. Tapi kesedihan itu berlalu ketika saya mendapatkan informasi KKN Internasional di social media. Sebagai gantinya saya meminta izin orang tua untuk mengikuti program KKN Internasional ini. Alhamdulillah, akhirnya Allah izinkan saya ikut program ini melalui izin orang tua saya meskipun sebelumnya saya sempat ragu untuk diberikan izin dari orang tua.

KKN Internasional memiliki peranan hampir sama dengan KKN-KKN lainnya yang ada di Unsyiah yaitu menuntut mahasiswa untuk mengabdi di suatu daerah guna belajar langsung dengan masyarakat dan juga mengimplementasikan ilmu yang telah diperoleh di Program Studi untuk masyarakat setempat. Layaknya KKN Regular, mahasiswa KKN Internasinonal ini juga dituntut untuk menjalakan kegiatan utama, kegiatan penunjang, kegiatan tambahan, kegiatan pendukung, dan juga kegiatan khusus. Hanya saja yang membedakannya adalah tempat pelaksaan. So, over all sistem dari pelaksanaan itu juga ikut berbeda.

KKN Internasinal Unsyiah tahun 2018 bertempat di Perak, Malaysia. Secara keseluruhan kegiatan ini diikuti oleh 14 mahasiswa dari berbagai fakultas, 2 pendamping dari kantor OIA, serta 3 dosen pembimbing lapangan. Kegiatan ini berlangsung selama 21 hari yaitu mulai tanggal 28 agustus 2018 hingga tanggal 17 september 2018. Berbeda dengan KKN lainnya yang menempatkan mahasiswa di suatu tempat dari awal keberangkatan hingga selesai kegiatan, mahasiswa KKN Internasinal ini ditempatkan di 5 tempat yang berbeda selama 21 hari. Kelima tempat tersebut adalah 5 hari di Kampung Anak Kurau, 5 hari di Taman kota Wira, 4 hari di Taman Chandan Putri, 4 hari di Ipoh, dan 3 hari di Universitas Kebangsaan Malaysia. Sangat lelah memang selama 5 hari sekali harus packing barang dan pindah tempat dengan koper yang sangat penuh, but very much experience and memories that I got there.

Sebagai satu-satunya perwakilan mahasiswa Program Studi Matematika Fakultas MIPA Universitas Syiah Kuala tentunya sudah menjadi tugas dan kewajiban saya untuk menjadi ambassador bagi jurusan saya. Memang sudah sewajarnya mahasiswa matematika memperkanalkan matematika kepada siapapun. Dalam hal ini, rasanya sangat tepat bagi saya untuk menjalankan program utama saya yang berjudul “Math Fun and Easy”. Memperkenalkan keindahan dan kemudahan matematika kepada siswa-siswi Malaysia.

IMG_8537

Program “Math Fun and Easy” ini bertujan untuk memberikan pemahaman bagi siswa-siswi Malaysia bahwa matematika itu adalah suatu ilmu penting yang mudah dan menyenangkan jika dikemas secara asik dan menarik seperti yang diwujudkan dalam hitung cepat dan mathematic games. Rupanya, implementasi matematika dalam bentuk hitung cepat dan mathematic games sangat menarik perhatian para siswa-siswi Malaysia. Baik itu siswa SD ataupun SMA. Hal ini sangat jelas saya lihat dari antusias siswa-siswi yang sangat positif dalam mengikuti program. Banyak diantara mereka yang merasakan manfaat baik dari program ini. Senang rasanya ketika saya bisa merubah sedikit mind set mereka yang tadinya takut dengan matematika menjadi siswa yang antusias dan ingin belajar matematika lebih lanjut. Alhamdulillah program ini berhasil saya jalankan di 2 sekolah di Malaysia. Yaitu SK Sri Kurau (setara dengan SD) pada tanggal 29 agustus 2018 dan SMK Sayong (setara dengan SMA) pada tanggal 7 september 2018.

On other occasions, saya juga mengajarkan siswa-siswi belajar berhitung matematika dengan menggunakan Bahasa Aceh. Nah, program penunjang ini bertujuan untuk memperkenalkan Bahasa Aceh kepada siswa-siswi Malaysia. Rupanya, keunikan Bahasa Aceh menjadikan semangat belajar siswa-siswi menjolak tinggi. Mereka sangat antusias untuk bisa berhitung matematika dengan menggunakan Bahasa Aceh. Alhamdulillah, program ini selesai pada tanggal 30 agustus 2018 di SK Sri Kurau, Anak Kulau, Perak, Malaysia.

Program penunjang saya yang lain adalah “Praktik Membuat Timphan, Kue Tradisional Khas Aceh”. Jadi pada tanggal 31 agustus 2018 lalu, saya bersama masyarakat Kampung Anak Kurau khususnya ibu-ibu mempraktikkan pembuatan Timphan Aceh di rumah kepala desa. Program ini sangat berguna untuk memperkenalkan budaya Timphan Aceh kepada masyarakat Malaysia. Selain itu diharapkan dengan adanya praktik Pembuatan Timphan ini masyarakat Kampung Anak Kurau dapat memperkenalkan Timphan kepada masyarakat Malaysia secara lebih luas karena sudah tahu bagaimana proses pengolahan Timphan. Dengan begitu, budaya Timphan Aceh dapat dikenal di seluruh Malaysia.

IMG_4664

Itulah beberapa program yang saya jalankan di Perak, Malaysia. Masih sangat banyak program lainnya yang tidak muat untuk saya sebutkan disini secara keseluruhan seperti mengadakan event “Malam Aceh Menangis” untuk pengenalan kehidupan Aceh before and after stunami, diskusi perbandingan hukum syariah islam di Aceh dan Malaysia dengan salah satu Mufti Perak, kunjungan ke tempat-tempat bersejarah di Malaysia, siskusi dengan mahasiswa Kolej Pendeta Za’ba UKM, diskusi pertumbuhan perekonomian Perak di Pejabat Kerajaan Negri Perak, belajar memasak masakan Malaysia, dan masih banyak lagi yang lainnya.

Yang ingin saya tegaskan dari keseluruhan pengalaman saya disana adalah kebaikan mereka dalam menyambut dan melayani tamu. sepertinya mereka punya prinsip “merajakan tamu “ kali ya ? :D . Kami datang sebagai tamu, tapi kami dilayan lebih dari tamu. Kami datang untuk menjalankan program,  mereka menerimanya dengan sangat baik bahkan kami sangat dibantu untuk menyukseskan program kami masing-masing. Kami tinggal di rumah keluarga angkat sebagai tempat istihat sejenak dari kelelahan beraktifitas, tapi mereka malah mengaggap kami lebih dari anaknya.

Sebelum berangkat saya sempat berfikir “pasti rempong dan capek banget selama 21 hari disana harus pindahin barang sebanyak 5 kali”. Ternyata memang iya, that’s true. Itu sangat rempong dan melelahkan. Tapi dibalik itu semua, ada hal yang tak bisa saya lupakan. Setiap saya pindah tempat saya tak bisa membendung air mata untuk tidak keluar. Kami semua dibanjiri air mata setiap kali berpindah tempat. Bagaimana tidak, kebaikan keluarga angkat di setiap tempat tinggal kami sangat luar biasa dan berat untuk ditinggalkan. Berat rasanya saat harus meninggalkan mereka dan pergi ke tampat yang lain. Ibaratnya benar-benar seperti seorang anak yang sangat disayang orang tuanya namun tetap harus pergi meninggalkan orang tua. Bukankah sangat menyedihkan ?

Itulah sedikit banyaknya pengalaman saya di Malaysia dalam mengikuti program KKN Internasional. Semoga tulisan ini bermanfaat bagi siapapun yang membaca. Thanks for reading all”.